Jumat, 18 Januari 2013
Kamis, 17 Januari 2013
wanita biasa :)
Aku hanyalah wanita biasa yang berusaha menjadi terbaik dalam tiap bicara dan perlakuan,kala terang maupun sembunyi dari pandangan makhluk Tuhan.
Aku juga wanita yang terbiasa dengan kehilafan dan seringkali terikat dengan pandangan manusia dari pandangan Tuhan.Namun dalam kebiasaan itu,
Aku adalah wanita biasa yang mampu menjadi sebaik-baik makmum dan memerlukan sebaik-baik imam yang mampu mendahului segala kebiasaanku dengan tertib dan bersahaja.
Walau dimana dia berada,sebelum menemui bakal imamku,
Maka,aku ingin berusaha menjaga hati dan berusaha menjadi sebaik-baik Khalifa Allah..
di bumi ciptaanNya hingga ke pertemuan akhirat sana. =)
Rabu, 16 Januari 2013
Selasa, 15 Januari 2013
Kisah Imam Abu Hanifah dengan Seorang Kanak-kanak
Sebuah kisah, penuh dengan hikmah. Semoga berguna untuk semua!
:)
- - - - - - -
Pada suatu ketika dahulu, Imam Abu Hanifah (rahimahullah) sedang berjalan menuju ke masjid bersama ahli jemaah beliau. Dalam perjalanan tersebut, Imam Abu Hanifah (rahimahullah) terserempak dengan seorang kanak-kanak yang sedang mengambil wudhuk di sungai sambil menangis teresak-esak. Terpampang jelas pada wajah kanak-kanak itu air mata yang mengalir deras jatuh ke dalam sungai lantaran tangisan yang bersangatan.
Imam berhenti dan bertanya kepada anak tersebut tentang perkara yang membuatkannya menangis sedemikian. Lalu anak kecil itu menjawab, “Biarkanlah aku dengan keadaanku ini wahai Imam.”
Imam Abu Hanifah (rahimahullah) tidak berganjak bahkan menggesa anak itu agar menceritakan juga sebabnya. Lalu si anak ini menjawab, “Aku telah membaca sepotong ayat dalam al-Quran yang mengatakan {Maka takutlah kamu kepada api neraka, yang mana bahan bakarnya adalah manusia dan batu-batu, yang disediakan kepada orang-orang kafir}.”
“Ya, tepat sekali wahai anakku! Tetapi engkau masih lagi anak kecil, ayat ini tidak terkena ke atasmu wahai anakku..” Jawab Imam Abu Hanifah (rahimahullah).
**Apakah reaksi kanak-kanak itu?!**
“Bukankah apabila kita hendak menyalakan api, kita letakkan dahulu kayu-kayu kecil sebelum yang besar wahai Imam?!” Tanya si anak spontan.
Tersentak. Tiada ada lagi yang mampu dijawab oleh Imam Abu Hanifah (rahimahullah) melainkan berkata kepada ahli-ahli jemaah, “Demi Allah! Sesungguhnya anak ini lebih takut kepada Allah berbanding kita semua.
:)
- - - - - - -
Pada suatu ketika dahulu, Imam Abu Hanifah (rahimahullah) sedang berjalan menuju ke masjid bersama ahli jemaah beliau. Dalam perjalanan tersebut, Imam Abu Hanifah (rahimahullah) terserempak dengan seorang kanak-kanak yang sedang mengambil wudhuk di sungai sambil menangis teresak-esak. Terpampang jelas pada wajah kanak-kanak itu air mata yang mengalir deras jatuh ke dalam sungai lantaran tangisan yang bersangatan.
Imam berhenti dan bertanya kepada anak tersebut tentang perkara yang membuatkannya menangis sedemikian. Lalu anak kecil itu menjawab, “Biarkanlah aku dengan keadaanku ini wahai Imam.”
Imam Abu Hanifah (rahimahullah) tidak berganjak bahkan menggesa anak itu agar menceritakan juga sebabnya. Lalu si anak ini menjawab, “Aku telah membaca sepotong ayat dalam al-Quran yang mengatakan {Maka takutlah kamu kepada api neraka, yang mana bahan bakarnya adalah manusia dan batu-batu, yang disediakan kepada orang-orang kafir}.”
“Ya, tepat sekali wahai anakku! Tetapi engkau masih lagi anak kecil, ayat ini tidak terkena ke atasmu wahai anakku..” Jawab Imam Abu Hanifah (rahimahullah).
**Apakah reaksi kanak-kanak itu?!**
“Bukankah apabila kita hendak menyalakan api, kita letakkan dahulu kayu-kayu kecil sebelum yang besar wahai Imam?!” Tanya si anak spontan.
Tersentak. Tiada ada lagi yang mampu dijawab oleh Imam Abu Hanifah (rahimahullah) melainkan berkata kepada ahli-ahli jemaah, “Demi Allah! Sesungguhnya anak ini lebih takut kepada Allah berbanding kita semua.
Minggu, 13 Januari 2013
Sabtu, 12 Januari 2013
Jumat, 11 Januari 2013
Jika sedetik kemudian Dia (Allah) memanggilku
Selama apapun waktu demi kepentingan dunia, hati slalu berkata YA tanpa ada rasa berpikir lain,
tp selama apapun waktu demi kepentingan akhirat,,
terkadang waktu sebentarpun aku anggap lama dan ingin cepat berakhir,,
Ya aku pernah merasakan itu,,
rela berlama-lama dengan banyak buku Novel,
"Lalu aku makin bersalah, ketika teringat hampir seluruh waktuku tersita untuk mengerjakan tugas-tugas dunia. Sedangkan untuk Allah hanya kuberi waktu sisa. Entah apa yang akan kukatakan padaNya, jika sedetik kemudian Dia memanggilku."
#SRD
Kamis, 10 Januari 2013
Langganan:
Postingan (Atom)


















